Sajak Pagi
Pagi yang paling menyedihkan adalah pagi dengan stok
kopi yang habis
Salah, Pagi yang paling menyedihkan adalah pagi dengan stok kopi yang habis dan ku rindu kau. haha
Salah, Pagi yang paling menyedihkan adalah pagi dengan stok kopi yang habis dan ku rindu kau. haha
njir !
Sepagi ini langit masih belum menampakkan rona bahagianya, sedikit gelap dan tak ada sedikit sinar pun dari ufuk timur. Hari-hari terlewati tanpa bisa terdeteksi, terkadang terang terkadang gelap, bercahaya dan tidak bercahaya, semakin lama semakin memburuk duniawi. Orang-orang di sini mulai di sibukkan dengan tugas duniawi, terfokus pada teknologi yang semakin membodohi, hampir lupa diri, lupa sekitar, lupa asal-muasal. Ternyata hidup memang tugas berat bagi manusia, sebab Hidup seharusnya berguna, bukan hanya pada individu lain ataupun kelompok lain, tapi harus berguna pada Alam Semesta Raya yang menjadi ladang kehidupan Manusia.
Kita hidup di abad ke 20 yang mana semua bisa di jangkau dengan mudah, saling sapa dengan mudah di kirimkan dengan ponsel dari pada harus mendatangi tempat satu sama lain, semua bisa di dapatkan dengan mudah asal memilik modal, dan apa-apa yang di cita-citakan pun mudah di gapai jika(sekali lagi) memiliki modal’uang’. Angka benar-benar merusak moral manusia, semua kebutuhan di sudutkan pada uang, semua begitu terobsesi mencari uang, ada yang hanya bertujuan agar kaya, ada pula yang bertujuan menyambung kehidupan keluarganya, namun yang paling buruk adalah mencari uang hanya untuk diri sendiri, tak berbagi dan tak sedikitpun menciprati orang-orang miskin yang lebih tak mampu, rakyat-rakyat jelata yang semakin tercekik hidupnya.
Di Negara kita Penguasa seperti tikus yang begitu rakus seolah-olah mereka hidup hanya berfikir hidup akan berakhir setelah mampus. Sebagian dari mereka berbuat tak sebagaimana mestinya, bermain-main dengan jabatannya, saling rebut jabatan di tahta kekuasaan. Membangun mall-mall, gedung-gedung tinggi hingga hampir lupa memberi ruang untuk bernafas secara manusiawi, udara segar sangat susah di temui jika di perkotaan. Semua sudah tercampuri asap kendaraan yang menjadi polusi yang semakin membabi.
Entahlah, kucukupi sedikit cerita pagi ini.
Terlalu banyak masalah di negeri ini, yang mana media semakin membuat kita terbiasa dan menganggap tak ada apa-apa pada semua yang terjadi. Campur tangan politik selalu menghasilkan noda yang tak hanya setitik, air di campur dengan tai, di aduk dengan oli, di buang ke sungai membunuh ikan-ikan tak berdosa dengan bengisnya, orang-orang membuang sampah sembarangan, tak peduli pada alam sekitar, tak peduli pada apa yang terjadi, hanya memikirkan sendiri, hidup bahagia, segalanya tercukupi untuk diri sendiri, lalu mati.
Hidup memang tugas berat bagi manusia, jalani, nikmati, dan syukuri. Satu hal lagi harus peduli pada lingkungan dan tak merusak alam, semakin yakin bahwasanya kita tak bisa hidup tanpa air dan udara segar, jadi berhentilah mencaci, merusak, mari melindungi dan saling menghargai.
Jogja, 03-05-2016

Komentar
Posting Komentar