Saduran tuk Penguasa Gila

Kota menjelma penguasa
Rakyat dibungkam suaranya
Kemerdekaan hanya milik elite semata
Buruh, penjual jajan di pinggiran jalan, pengamen-pengamen di bus-bus kota tertelan oleh jahannamnya sistem penguasa gila.

Kalau nanti menjelang siang,
Warung-warung membumi di habisi
Mampuslah kebenaran dinegeri ini
Kalau nanti sore menjelang malam
Lampu-lampu toko 'mart' dinyalakan
Terang benderang silaukan pandangan
Matilah kepedulian pada rakyat kekurangan.
Kalau nanti petang menuju pagi
Kala rakyat tertindas baru pulang dengan wajah memelas dari lokasi kerjanya,
Sementara penguasa sibuk bermanja ria bersama 'lonte' disinggasana rutinitas malam busuknya, pecahlah logika sehat kita.
Kalau nanti hari sudah dimulai lagi
Ibu-ibu sejak dini pergi kepasar
Orang-orang membumi bangun lebih pagi
Sebagian kawan-kawan tersadar
Saatnya pergi ke tempat ibadah suci
Selebihnya, dilawan kantuknya jadi gentar
Sisanya lebih memilih berdiam diri

Seolah-olah segala keharmonisan antara atasan dan bawahan sangat tipis kemungkinan. Dibatasi zona-zona permaianan tangan-tangan bayaran, pemisah kesederhanaan, kesadaran dan kewarasan. Dibutakan jabatan, menghamba pada uang, uang dan uang.
Berkelakar program pembangunan, data A di atas kertas, data B yang bermain di lapangan, setengah dari anggaran masuk ke kantongan. Apalagi kalau bukan bangun rumah, kendaraan kelas atas, yang paling pasti untuk me'lonte' (lagi) bisa dari dalam atau luar negeri.

Tak cuma dikota
Di hutan pun juga
Pohon-pohon ditebang
Dibakar hingga satwa pada bubar
Tanpa alasan, semata demi keuntungan
Terumbu karang hilang
Dimaling perusahaan lenggang pinggang
Bahkan kehidupan laut terancam
Investor tetap saja menghujam
Bahkan demi keamanan
Nelayan dijadikan kambing hitam
Tunggang langgang sembunyi diri
Kalau tahu bisa ditembak hingga mati
Tak hanya di ruangan
Di tempat umum pun terang-terangan
Merajalela bak germo menyetubuhi psk.
Mengaduh bergemuruh kala kedoknya dikuak ke media.

Duh negeriku,
Bhineka Tungga Duka kata Merah Bercerita
Rimba raya tak ada tempat berpijak lagi
suntuk Bung Iwan Fals
Nyalakan tanda Bahaya kata Cak Iksan Skuter
Bebal celoteh gundah dari Sisir Tanah

Oh nusantara
Elokmu terkikis tangan rakus kuasa
Suara-suara menggelegar
Bung Chairil Angkatan 45' menyuarakan dari satu kota ke kota lainnya tapi bukan untuk sesama penghuni negaranya, melainkan penjajah belanda. Ribuan mayat tergeletak sepanjang Krawang-Bekasi. Apa kini menunggu penguasa negeri tuk menghabisi rakyat sendiri?

WS Rendra dalam sajak-sajaknya yang tak dipublikasikan, mengocok-ngocok kepala pembaca tuk sadar akan gerilya gila para penguasa. Berjejalan dimana-mana, bertebaran di langit-langit kota dan desa.
Apa kita akan mewariskan neraka buatan untuk anak cucu kita? Akan selalu rumitkah Indonesia?

Oh Nusantara
Apakah kita baik-baik saja?






Komentar

Postingan Populer