Untuk adik-adikku
Sore kemarin aku bisa lepas tertawa
Bersama keponakan kecil di rumah
Siang ini aku juga bisa tertawa
Hanya saja tersirat gelisah
Jika kemarin karena adik-adikku
Belajar bersepeda dan bermain bola bersama
Kini adikku yang satunya lagi menyedihkan
Ia begitu ketergantungan dengan handphone
Lihat youtube katanya, download permainan, dan lain sebagainya
Menyedihkan untukku yang ketika seumuran mereka aku lebih sibuk dengan permainan bersama kawan-kawanku dihalaman rumah, jalan raya, atau lapangan sepak bola. Jarang aku di lenakan teknologi kala sekecil mereka, paling maksimal ya bermain ps, nonto bola, sudah hanya itu-itu saja. Kasihan mereka sekecil itu begitu ketergantungan dengan handphone kepemilikian orang tuanya.
Susah memang zaman sekarang
Teknologi meroket berkembang
Anak-anak lebih sibuk didepan layar
Dari pada bermain di tanah lapang
Anak-anak itu dimakan teknologi
Hampir rugi sekolahnya dari pagi hingga siang. Sepulangnya yang dicari hp orang tuanya, jikalau tak dikasih akan menangis sejadi-jadinya.
Sulit pula memang menjadi orang tua
Serba salah adanya, tapi kesemuanya tetap kembali dari kebiasaan positif yang di berikan pada anaknya sejak menyundul-nyundul dari rahim ibunya.
Dik, aku masmu
Dik, aku pernah kecil sepertimu
Dik, aku juga pernah menangis
Dik, cobalah kau bahagiakan dirimu
Dik, lihatlah teman-temanmu
Dik, mereka menungggumu meski hujan gerimis
Dik, kunjungilah taman, lapangan, atau jalan itu
Dik, kau harus mulai memahami ada baiknya untukmu teknologi, tapi bukan saat ini. Melainkan beberapa tahun lagi.
Aku tak ingin kau merugi ketika remaja nanti
Semasa kecilmu kau tak punya cerita
Sebab, kesibukanmu hanya dirumah terbunuh teknologi
Jangan kau menyesal di belakangnya
Sadarlah adik-adikku
Aku akan dengan sepenuh hati membimbing kalian semua, asal mau dengar nasehat yang ku pastikan baik adanya untuk kehidupan kalian di kemudian waktu.
-Dari Mas Hanif-
Polanharjo | 13:44
- Senin, 6 februari 2017

Komentar
Posting Komentar