Candi Ijo, ranah indah tempat penikmat jingga menyala
Resah berkelana, bayang-bayang wajah nona bersemayam dikepala. Hari ini langit Jogja memang sedang indah-indahnya, biru berkuasa ditemani awan putih yang bertebaran ditiap-tiap karavannya.
Hati yang kian hari kian bekerja lebih dari biasanya merasa harus diobati sebagaimana layakanya jiwa petualang yang candu akan tanah-tanah indah tak terjamah.
Selepas kembali dari kampus sederhana dari sekian deretan tiggi gedung-sedung yang menjulang di UGM raya, kupacu motorku menuju rumah sementaraku di Pogung Lor. Ada pilu yang ingin segera kutuntaskan ditanah tinggi sembari pandangi indahnya senja dari ufuk barat. Keramaian ku terjang dengan lantang, deru bising kendaraan berputar-putar merusak ketenangan telinga. Gundah yang makin menjamah dengan segera ku buang jauh demi pengobatan melalui secarik senja yang dengan sengaja dikirimkan Tuhan kepada hamba-Nya sebagai pelipur lara yang mendera.
Setibanya diarea candi ijo, kuparkir motorku segera dan dengan lihai ku keluarkan uang dua ribuan untuk biaya parkir kepada penjaga yang mayoritas adalah warga asli sana. Resahku mereda saat kulihat diujung sana mentari mulai turun menepi, yang perlahan kan berganti merona merah jingga. Kaki kulangkahkan mantap memasuki pelatara Candi Ijo. Memasuki pintu gerbangnya aku disambut dengan pak satpam yang mengingatkan dengan lugas padaku"Cuma sampai jam 6 ya mas" katanya padaku, "nggih pak" jawabku singkat. Kulanjutkan lagi langkahku menuju tempat yang biasa dikerumuni muda-mudi untuk menunggu senja.
"Benar saja ramai seperti ini" batinku, efek dari sosial media yang begitu gencar dan mudah bagi khalayak ramai untuk mencari destinasi wisata. Pasangan muda-mudi bertebaran disana-sini, timbul rasa iri memang namun dengan segera ku hempaskan tubuhku ke tebing paling pinggir untuk duduk sejenak menunggu hadirnya sang senja, Fyuh, akhirnya bisa juga kurehatkan raga dengan memandangi eloknya panorama. Sayang memang awan kelabu perlahan menebal, sedikit mengurangi keindahan langit yang tadinya biru.
"Benar saja ramai seperti ini" batinku, efek dari sosial media yang begitu gencar dan mudah bagi khalayak ramai untuk mencari destinasi wisata. Pasangan muda-mudi bertebaran disana-sini, timbul rasa iri memang namun dengan segera ku hempaskan tubuhku ke tebing paling pinggir untuk duduk sejenak menunggu hadirnya sang senja, Fyuh, akhirnya bisa juga kurehatkan raga dengan memandangi eloknya panorama. Sayang memang awan kelabu perlahan menebal, sedikit mengurangi keindahan langit yang tadinya biru.
Ku ambil rokokku, kugapai korek dari tempat yang sama aku mengambil rokok, angin sedang kencang-kencangnya hingga menyulitkanku menyulut rokok. Datang seorang diri membuatku tersenyum kecut saat mendapati mayoritas sekitarku adalah muda-mudi yang tengah meramu candu pula mengobati rindu. Aku bergeming, mereka belum tentu bahagia, bahkan aku tak menangkap keindahan sebuah hubungan dari penglihatan singkatku pada tingkah mereka.
Ditanah ini nona, aku kirimkan sekepul asap yang menandai keresahanku atas perbedaan keyakinan kita, atas rasa yang kian hari makin menjurus tak bertemu, perihal senyummu yang tak lagi pancarkan indah untukku, juga menyoal diriku yang tak kunjung menyampaikan roman yang selalu kuramu pada parasmu. Tolol memang, padahal semesta begitu merestui keinginan kita, seringkali kutemui kesamaan ataupun teka-teki yang saling terhubung setelah kuruntut satu persatu. Sulit digambarkan memang perasaan ini nona, kita sama-sama menaruh harap satu sama lain yang sejatinya kita hanya menerka-nerka.
Ada bayangmu yang selalu tergambar jelas saat lamunan merajai tubuhku, pula senyum manismu yang mengembang jelas disela-sela kesibukan yang melelahkanku. Hingga tak jarang beberapa puisi yang kusebarluaskan disosial media adalah teruntuk dirimu yang berada diekajuhan. Saat bayangmu hadir, ada ruang baru yang menjelma dipikiran dan memaksa untuk ku beri porsi yang sama dengan perhatianku pada diri sendiri.
Ada bayangmu yang selalu tergambar jelas saat lamunan merajai tubuhku, pula senyum manismu yang mengembang jelas disela-sela kesibukan yang melelahkanku. Hingga tak jarang beberapa puisi yang kusebarluaskan disosial media adalah teruntuk dirimu yang berada diekajuhan. Saat bayangmu hadir, ada ruang baru yang menjelma dipikiran dan memaksa untuk ku beri porsi yang sama dengan perhatianku pada diri sendiri.
Kini, aku mengerti nona. Lewat secarik senja yang dikirimkan Tuhan padaku sore itu, aku sedikit faham mengenai rasa yang tumbuh padamu. Ia akan tetap kusirami taip pagi menjelang dan gelap datang, rasa itu butuh waktu untuk berkembang dan matang. Sampai nanti nona, akan kuutarakan semua perihal rasa juga candu yang bermuara padamu.
Sudah dulu nona, kunjunganku ke candi ijo sudah kurasa cukup. Terimakasih Tuhan atas pesona senja jingga meyala dikejauhan yang kau suguhkan.
Komentar
Posting Komentar