KELANA RESAH TAK LAKSANA MENUNGGU RIMBA MURKA

Ada yang sedang bertahan
Dari riuh keramaian maya
Ada yang sejenak menghilang
Keluar menuju ke kenyataan

Kata-kata tak cukup tanpa laksana
Ada masanya meramu itu melelahkan
Telah tiba fasenya untuk merealisasikan
Segala siap atas gundah yang dirasakan

Kita boleh bicara idelisme,
Menjaga keunikan diri, individu berbeda.
Cinta pada negara, nasionalisme perlu tanda cinta
Semesta yang harum, akan beeganti jika insan terlena tahta

Tanah, air, jua udara
Dimanapun, selama masih satu bangsa
Wajib dijaga bersama dengan semangat yang sama.

Cinta, ia berceceran di dapur pedesaan
di teduhnya areal persawahan, dalam tenangnya sunyi malam.
Kelak, yang berkepentingan akan sadar, segala macam alih-alih kesejahteraan yang berujung pada rupa warna tanya ternyata hanya fana belaka,
Orang-orang menciptakan tumbal saudara sebangsanya untuk alam, yang ternodai perkembangan zaman.

Angin bertiup perlahan, tapi pasti.
Air mengalir tenang, tanpa beban.
Yang merusak pasti akan mati
Yang menjaga akan bahagia, menuju akhirat-Nya

Kesempurnaan hidup yang berbeda antara yang merusak dan menjaga alam semesta raya, Ibu.
Bumi Khatulistiwa, Indonesia.

Komentar

Postingan Populer