Aku, Ibu, dan Bapak dalam Trilogi Cinta sederhana
Lantas, dalam degup nafas berhembus tak karuan
Terbersit bayang wajah sosok gagah sarat daya juang
Bapak, dalam perenunganku mengingatmu selalu
Tangis yang pecah antaraku dan antaramu
Kala momen fitri menjadi saksi sucinya debar rindu
Gelagat bergetar tubuhku, terisak, tak kuasa...
Pak, bolehkah aku meminta maaf kepadamu?
Atas segala riuh bodoh dan rugi yang telah ku hidupi.
Pak, aku sadar sudah dewasa.
Tak lagi waktunya bersenang-senang belaka.
Saatnya menjelma menjadi pemuda yang berguna,
Belajar menghidupi diri sendiri dan calon istri
Bapak, putramu sudah besar
Sudah bisa tumbuh kembang sendiri
Ia cerminan dirimu Pak
Kasih sayang nan tulus milikmu
Baik-baik disana, Pak
Jaga Ibu malaikatku, yang jua pendamping hidupmu.
Salam hangat dari putramu,
Terbersit bayang wajah sosok gagah sarat daya juang
Bapak, dalam perenunganku mengingatmu selalu
Tangis yang pecah antaraku dan antaramu
Kala momen fitri menjadi saksi sucinya debar rindu
Gelagat bergetar tubuhku, terisak, tak kuasa...
Pak, bolehkah aku meminta maaf kepadamu?
Atas segala riuh bodoh dan rugi yang telah ku hidupi.
Pak, aku sadar sudah dewasa.
Tak lagi waktunya bersenang-senang belaka.
Saatnya menjelma menjadi pemuda yang berguna,
Belajar menghidupi diri sendiri dan calon istri
Bapak, putramu sudah besar
Sudah bisa tumbuh kembang sendiri
Ia cerminan dirimu Pak
Kasih sayang nan tulus milikmu
Baik-baik disana, Pak
Jaga Ibu malaikatku, yang jua pendamping hidupmu.
Salam hangat dari putramu,
Komentar
Posting Komentar