Kedamaian dan Ketenangan, Sebuah teka-teki
Bagaimana jika,
Fajar tiba hingga senja menyala
Segala laku manusia tak bermakna
Kata tinggallah kata
Mana peduli orang-orang
Membaca kala punya perlu saja
Tak ada lagi yang mau berdendang
Semenjak cahaya kuning keemasan
Menguap ke belantara dunia fana
Orang-orang tak kenal henti kegiatan
Memenuhi butuh dan keadaan yang ada
Siapa sangka sang pendosa masuk surga
Tak ada yang mengira sang ulama terjebak di neraka
Sesiapapun tak bisa menerka,
Pahala dan dosa ditimbang-timbang
Itu kehendak-Nya, bukan urusan kita
Sudah dibisikkannya berulang-ulang
Melalui tragedi-tragedi
Sebagai perenungan akan mati
Ketakutan akan disiksa sendiri
Nyatanya, kita terperangkap
Pada samudera hidup yang tak kita tahu kapan ujungnya, dimana akhir jalannya.
Ada yang mengeja makna
Ada pula yang berjalan saja
Ada jua yang berdiam diri
Ada lagi yang tak peduli
Aku mau hidup, lagi dan lagi
Meski nanti, mati mengakhiri nafas
Biarkan kemurnian hati yang menghakimi
Segala bentuk baik yang berbekas
Fajar tiba hingga senja menyala
Segala laku manusia tak bermakna
Kata tinggallah kata
Mana peduli orang-orang
Membaca kala punya perlu saja
Tak ada lagi yang mau berdendang
Semenjak cahaya kuning keemasan
Menguap ke belantara dunia fana
Orang-orang tak kenal henti kegiatan
Memenuhi butuh dan keadaan yang ada
Siapa sangka sang pendosa masuk surga
Tak ada yang mengira sang ulama terjebak di neraka
Sesiapapun tak bisa menerka,
Pahala dan dosa ditimbang-timbang
Itu kehendak-Nya, bukan urusan kita
Sudah dibisikkannya berulang-ulang
Melalui tragedi-tragedi
Sebagai perenungan akan mati
Ketakutan akan disiksa sendiri
Nyatanya, kita terperangkap
Pada samudera hidup yang tak kita tahu kapan ujungnya, dimana akhir jalannya.
Ada yang mengeja makna
Ada pula yang berjalan saja
Ada jua yang berdiam diri
Ada lagi yang tak peduli
Aku mau hidup, lagi dan lagi
Meski nanti, mati mengakhiri nafas
Biarkan kemurnian hati yang menghakimi
Segala bentuk baik yang berbekas
Komentar
Posting Komentar