Rindu Ibu, teriak pada Bapak

Kelak perantauan bukan saja mengajarkan kerinduan
Tangis akan ada meski tak semua berani merasakannya
Celah-celah harap pasrah menanti bukti menimba di kejauhan
Anak tertusuk dalam dada, ingin segera mewujudkannya

Sesak penuh isi kepala, tertikam-tikam nyata jadikan tanya
apa ada yang lebih menyakitkan daripada menyesal di ujung perjuangan?
Kini, tengah-tengah proses berbisik melalui gemulai angin menerpa tubuhnya,
mengatakan,"Hei kau, lekaslah beri bukti pada Ibu, Bapak, dan Bumi Pertiwi"
Si penerima mendengarkan dengan terpana, dingin menjelma rongga-rongga pikirannya

~
Ternyata selain mengajarkan rindu, rantau akan tahu bagaimana merasakan lara.
sedihnya tak bisa bersua, letihnya berjuang tanpa penopang daya juang, perlahan dan pasti
air itu menggenang dalam lingkaran hitam putih, indera penglihatan bergetar, terjadi kecamuk
begitu besar dan buat gusar, diputarkannya lagu tentang rindu pada Ibu dan Bapak tuk obati pilunya sejenak.

Yah, bagiku kita harus memiliki rasa, merasakan rasa, menyikapi rasa dan memahaminya. Soe Hok Gie pernah berkata "Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita” 

Tenanglah dikau wahai para perantau, ada tangan-tangan Tuhan bertebaran dimana-mana. Ada kuasa-Nya yang selalu memberi teka-teki sarat arti, tinggal kita yang mengeksekusi mau seperti apa kita ini, dan bagaimana kelak ketika kembali bersua pada Ibu dan Bapak jika tak berarti dan memberi bukti, sebelum kembali ke samudera-Nya, kembali ke singgasana-Nya.


Tegaklah kepala, tegaplah dada, liarlah otak, tenanglah hati.

Semua ini siklus perjuangan yang harus kita jalani, mari beri bukti.

Komentar

Postingan Populer