Seumpama panel surya adalah Dia.
Kau dan aku pasti akan betah bercengkerama hingga senja tiba

Seumpama garis awan disamudera langit adalah malaikat-Nya.
Kau dan aku tentu akan bercumbu hingga lupa dengan waktu

Seumpama bangku itu tidak ada, Dia dan Malaikat-Nya akan selalu ada, saling berkaitan.

Yang satu membisikkan angin alam pada Dia, sedangkan Dia menangkap segala hal yang terjadi disekitarnya.

Kau tahu kasih, mengapa panorama alam selalu menakjubkan dilihat dari desa,

Sebab, desa adalah asal muasal segala kebahagiaan, kecukupan akan nikmat-Nya, syukur atas ada yang diberi-Nya, muara kesederhanaan yang mengajarkan ketentraman.

Ku analogikan desa itu adalah kau, asal muasal teduhnya kasih dan sayang setelah Bunda, Nenek yang telah tiada.

Semilir angin gunung akan menggiringmu untuk merunduk-merunduk dan mencari tubuh tuk di peluk.

Gelagat kabut gunung yang menerpa lembutnya wajahmu akan menuntunmu ke dalam damainya ruang terbuka tuk bersegera memasuki tenda nikmati hangatnya dialog mesra denganku,

Sunyi dan heningnya akan mengingatkanmu selalu pada hidup yang begitu biru, sendu dan penuh lika-liku,

Gemericik air dari gunung akan mengajakmu mengalir dalam sajak-sajakku yang lekas akan membekas dalam benakmu,
Menyusup di rongga-rongga kepala dan isi dada.

Komentar

Postingan Populer