Yang merdeka
Tidak ada merdeka dikota-kota.
Merdeka hanya ada didesa-desa.
Tidak ada merdeka dijalan raya.
Merdeka hanya ada dilorong-lorong sunyi perjalanan menuju ketinggian dengan penuh pengahayatan akan makna kehidupan.
Tidak ada merdeka diruang-ruang ber-AC dengan presentator yang medioker.
Merdeka hanya ada dibawah rimbunnya pepohonan berpadu desau semilir anginnya.
Tidak ada merdeka ditangan kapitalis,
yang kesemuanya serba materialis.
Merdeka ada ditangan-tangan petani, dipeluh keringatnya yang meletup-letup disiang hari demi hasil panen yang mencukupi.
Tidak ada merdeka ditanah yang kaya raya indah dan sentosa ini, selama produk lokal, kearifan lokal, pangan lokal dicemari dan makin terbiaskan oleh market-market jahat yang nyala lampunya lebih benderang dari pada pedagang-pedagang dengan gubuk dipinggiran jalan.
Merdeka, semenjak dulu lahir keluhuran dan kemahsyurannya sudah melekat ditiap-tiap dada warga adat dari masing-masing suku yang ada dipelosok negeri.
Kini, merdeka hanya simbolisme belaka, negeri surgawi ini sebagian besar penduduknya lupa, bahwa cara sederhana untuk memaknai kemerdekaan adalah dengan mempelajari kebudayaan, mengenali masa lalu, agar tak mati dimasa depan.
Kata-kata tidak pernah habis, tidak pernah mati, mereka mengudara terbang ke sekeliling jagat raya.
Setelah berkata, baiknya bekerja, dengan sikap, akal, cinta dan rasa.
Merdeka hanya ada didesa-desa.
Tidak ada merdeka dijalan raya.
Merdeka hanya ada dilorong-lorong sunyi perjalanan menuju ketinggian dengan penuh pengahayatan akan makna kehidupan.
Tidak ada merdeka diruang-ruang ber-AC dengan presentator yang medioker.
Merdeka hanya ada dibawah rimbunnya pepohonan berpadu desau semilir anginnya.
Tidak ada merdeka ditangan kapitalis,
yang kesemuanya serba materialis.
Merdeka ada ditangan-tangan petani, dipeluh keringatnya yang meletup-letup disiang hari demi hasil panen yang mencukupi.
Tidak ada merdeka ditanah yang kaya raya indah dan sentosa ini, selama produk lokal, kearifan lokal, pangan lokal dicemari dan makin terbiaskan oleh market-market jahat yang nyala lampunya lebih benderang dari pada pedagang-pedagang dengan gubuk dipinggiran jalan.
Merdeka, semenjak dulu lahir keluhuran dan kemahsyurannya sudah melekat ditiap-tiap dada warga adat dari masing-masing suku yang ada dipelosok negeri.
Kini, merdeka hanya simbolisme belaka, negeri surgawi ini sebagian besar penduduknya lupa, bahwa cara sederhana untuk memaknai kemerdekaan adalah dengan mempelajari kebudayaan, mengenali masa lalu, agar tak mati dimasa depan.
Kata-kata tidak pernah habis, tidak pernah mati, mereka mengudara terbang ke sekeliling jagat raya.
Setelah berkata, baiknya bekerja, dengan sikap, akal, cinta dan rasa.
Komentar
Posting Komentar