Jawaban-jawaban gelagat kepenatan

Bagaimana jika kita memulai sesuatu dengan nawaitu.
Sudah seharusnya bukan?
Bagiamana jika sesemua dan sesegala kita jalankan dengan tidak terburu-buru.
Sederhana bukan?

Hanya perlu mendengarkan perasaan paling dalam dari isi nurani yang memercikkan kedamaian dan petunjuk keramahan.

Sudah pagi, esok juga begini.
Lusa pasti tetap, hingga akhirnya ramai berganti sunyi.

Kearifan-kearifan semoga tak terabaikan, kota yang jahannam biarkan saja. Kendaraan yang memekikkan hati kecil diamkan dan lupakan.

Kota terlewat penat.
Kita belum hilang dari tabiat.
Semesta enggan mengalirkan mimpi,
Jika hanya dibeli oleh pemilik-pemilik, si empu dari maha benda yang di maha lebihkan.

Tenang sebentar. 
Pagi nanti langit mengabu lagi, 
Ranjang yang bergoyang, matahari yang enggan berbagi sinarnya. Semenjak marabahaya sengaja diciptakan manusia.

Oke, bosku.
Kita sudahi saja lelucon ini dengan banyak-banyak menyikapi apa-apa memulainya secara berbeda.

Mari, menyelesaikan sesuatu dengan tidak terburu-buru waktu.

Karena kita bukan yang terbiasa membunuh sesama, tetapi waktu. Si keparat yang harus kita kasih taubat.

Komentar

Postingan Populer