Pembelajaran awal petang


“Yang dikata pepatah memang sering benarnya,
tak ada kebahagiaan tanpa kesakitan sebelumnya, 
dikota kita tidak bisa berdiam diri, tidak bisa bergantung selalu”


                Nyatanya memang harus perih dan terseok-seok sebelum kesenangan akhirnya dirasakan, malam tadi, selepas maghrib berjama’ah di mushola dekat rumah, ku pacu kendaraan Bapakku, Si Mega pro tua yang gagah dan perkasa, sepanjang sejarah penggunaan tak pernah sekalipun bensin sampai habis. Karena biasanya bensin akan diisi ulang sebelum mencapai titik merah. Tapi, tidak pada waktu tadi, dimana keegoisanku mengalahkan keinginan untuk sejenak mengantri dipom bensin, tak elak berdampak pada mogoknya motor yang kupacu ditengah jalan, terpaksa ku cari warung yang menjual bensin eceran. Sampai bercucuran keringat, kaos yang kukenakan pun menjadi lembab, setelah ku temui warung yang menjual bensin eceran lekas ku beli bensin dan mulai menyela motornya untuk ku nyalakan. Berkali-kali aku mencoba dari sekian puluh aku menggenjot, hanya sekali motor menyala, itu menandakan ada yang bermasalah disaluran bensin.
                Aku yang berposisi didepan warung dan dekat degan sebuah gerobak penjual makanan khas yang bernama ketoprak pun menjadi tontonan para pembeli dan anak dari si Ibu warung. Setelah beberapa menit aku mengotak-atik mencoba menyalakan mesin motor, usahaku belum berhasil, tibalah saat dimana penjual ketoprak mendekatiku dan menawari bantuan, penawaran ku terima dan Si Bapak tersebut mencoba menyalakan mesin motorku, berkali-kali juga ia menggenjot namun hasilnya tak jauh beda dariku, masih belum bisa untuk dinyalakan. Hingga pada akhirnya dia kedatangan pembeli dan harus kembali ke meja gerobaknya untuk melayani, aku pun berusaha lagi untuk mencoba menyalakan mesin motor tapi masih sama hasilnya, nihil, dan motor masih belum menyala.
                Setelah kurasa letih, sejenak kupandangi wajah anak dari Si Ibu warung dimana aku membeli bensin, wajahnya sumringah melihat aku berkali-kali menggenjot, dan sesekali ia mencolekku, namun aku masih fokus untuk mencari cara bagaimana Si mega pro bisa menyala. Sejenak aku berfikir, ini masalah sederhana, perihal bensin yang mungkin tidak mengalir, ataupun bisa juga ada yang menghambat aliran dari tangki bensin ke bagian mesin, selepas bapak penjual ketoprak melayani pembelinya, ia menyarankan, “bawa ke bengkel aja mas, itu cuma butuh dinyalain doang paling dibagian chook nya, itu lurusan dari sini ada bengkel, kelihatan didepannya ada batako”, ku timpali segera”oke Pak saya kesana, makasih Pak” bergegas perlahan aku berjalan mundur menaiki motorku menuju tempat bengkel, tapi bengkel yang ku tuju sudah tutup, bingung pun merajai kepalaku, inisiatifku bermunculan untuk bertanya kepada salah satu warga yang baru pulang dari Masjid, “Mas, bengkel selain disitu mana ya mas yang dekat sini?”, Masnya tidak langsung menjawab dan hanya menggelengkan kepala sembari menatap bengkel yang sudah tutup itu. “Wah yasudah makasih Mas”, kututup segera pembicaraan dan kudekati motorku yang kuparkir pas didepan bengkel. Sesaat aku melihat pintu bengkel yang dibeberapa sisi terdapat lubang, ideku muncul untuk memannggil-manggil orang yang ada didalam bengkel, barangkali memang ada kemungkinan seseorang keluar dari dalam.
                Feeling-ku benar, sejenak pintu terbuka, seorang Bapak dengan kaos singlet putih dan celana pendek keluar, dimulutnya sudah tersaji sebatang rokok yang siap disulutnya, setelah meyalakan rokok ia pun bertanya, “Ada apa Mas?”, “Ini Pak, tadi bensin habis terus saya isi bensin eceran, setelah diisi saya nyalain gabisa”, jawabanku tanpa jawaban darinya, tapi ia segera masuk ke dalam untuk menyalakan mesin dan keluar membuka pipa saluran penghubung dari tangki bensin ke mesin, sejenak dia gunakan alat yang ia ambil dari dalam untuk menyemprotkannya ke pipa penghubung. Tak lama, bensin pun mengalir, lekas sumringah wajahku dan kufikir bapaknya akan langsung menyalakan mesin, ternyata tidak, masih ada dibagian pipa yang lebih besar yang ia buka dengan sebuah obeng, barulah setelah obeng dapat membuka pipa besar, ia menggenjot untuk menyalakan mesin motor dan dalam sekali percobaan, mesin pun menyala. Wah Alhamdulillah, ucapku lirih dalam batin. Transaksi pun terjadi, “semuanya berapa Pak?”, “dua puluh ribu mas”, ku keluarkan dompetku dan lekas kuberikan dua lembar uang sepuluh ribuan padanya, spontan ia berkata “Makasih Mas” Iya Pak, makasih juga” Bergegas kunaiki motorku dan menyalakan mesinnya, mesin sudah menyala gas kutarik perlahan-lahan, kopling kutarik, gigi kumasukkan, aku pun berjalan lagi, sesampainya didepan warung dan gerobak ketoprak ku sapa Bapaknya sembari berjalan, “Mari Pak”, “Oh Iya Mas”, tersirat senyum dari jawabannya.
                Sepintas sebuah pembelajaran sederhana yang terbersit beberapa makna besar didalamnya, apabila dalam kesusahan, diam bukanlah solusi, sedang keramaian menciptakan kemungkinan banyak jawaban, bertanyalah dan berusahalah! Dikota kita tidak bisa hanya memaki dan bergantung saja pada keadaan, maka, berbuatlah sebisamu semaksimal yang kau mampu.

Komentar

Postingan Populer