Balada Kehilangan



Kek, sudah tepat 12 tahun dikau meninggalkan sawah, rumah dan segala berkah yang melimpah.

Nek, setahun setengah sudah rumah menjadi sepi semenjak Tuhan meminjammu tanpa dikembalikan lagi.

Aku hanya ingin memberi kabar, rumahmu;kita, yang saat ini dimanfaatkan bulik, tengah dalam proses transisi dari masamu, menjadi masanya Ibu. Ya, Ibu yang diwisuda pada tahun 1992 serta turut serta Kakek, Nenek, Om-Om, Bulik lengkap menghadirinya. Kini kenangan itu masih terawat rapi dalam gambar yang sudah belasan tahun lamanya.

Om, 11 bulan sudah kepergianmu. Putra dan Putri-putrimu tengah menjalani proses penyadaran bahwa yang bernyawa pasti mati, ada kan tiada, temu akan pisah, dan muda akan tua. Mereka tumbuh, aku juga turut menyaksikan dan berbaur didalamnya, aku meramu dari caramu menuangkan segelas air kasih sayang yang ku teguk perlahan saat masaku masih kanak-kanak.

Dan aku ingin memberimu dua kabar:
Pertama, Thalhah sudah cukup lihai menjaga dirinya sebagai lelaki yang kelak sendiri, ia makin kreatif dengan dunia mainannya, sementara Khansa baru beberapa waktu kemarin kemampuan menggambarnya ditawar sebuah piala atas buah tangannya, sedangkan Hafsah, yang terkecil namun paling besar energinya, ia semakin pandai bercakap, benyanyi dan membaca. Sayangnya, seringkali ia menangis dan terlihat aneh dengan dunianya sendiri.

Kedua, istri yang tak lain adalah Bulik bagiku, Beliau sering terlihat letih, jelas ku tangkap dari kelopak matanya yang dibawahnya tergantung kantung mata yang hitam, jam tidurnya tak teratur, sebab anak-anak makin sulit diatur, tapi ia selalu berusaha tegar menggantikan posisi kepala keluarga. Meski begitu, ia tetaplah wanita yang mudah tersentuh hatinya, tak jarang matanya meneteskan air mata, tersedu lalu sejenak bercerita tentangmu Om, ia sangat merindukanmu. Solusi yang ia berikan hanya berwujud dalam do'a, yang ia haturkan juga anak-anak Om, dialog pada-Nya yang semoga membisikkan kerinduan Bulik pada Om.

Begitulah Om, mereka sangat mengharapkan kau kembali, meski mustahil terjadi. Tunggu ya Om, Thalhah sebentar lagi sudah SMP dan berencana masuk ke pondok tahfidz, sementara khansa sudah menjelang bangku sekolah dasar di kelas satu, dan Hafsah masih bergelut dengan dunia anak-anaknya di PAUD.

Hingga
Tahun berganti, bulan bersemi,merontokkan hari, menyisakan denting hitungan jam, lalu menyempit menjadi menit, sampai berdetak dalam detik.

Tak terasa ya Kek, Ibu, aku, Om, Bulik dan semua yang kau tinggalkan telah menjalaninya dengan penuh frasa-frasa suka-lara-duka-bahagia. Juga Nenek, lebaran kali ini tak sama, lebih sunyi dari tahun kemarin, dan jauh berbeda dengan dua tahun sebelumnya. Om, tamu yang semestinya merasakan lukamu sebagai duka kini makin menipis tuk berkunjung ke rumah, barangkali mereka hanya menyempilkan namamu dalam do'a khusyuk pada-Nya.

Ahh, hidup memang beragam persoalannya. Tapi, keluarga besar kita tetap akan aku perjuangkan untuk membantu menjaganya masih dalam lingkaran yang dilindungi dan penuh keberkahan dari-Nya.

Salam hangat, peluk dariku pada ruhmu, Kek, Nek, Om.


Klaten, 16 Juni 2018 | Djungkare 

Komentar

Postingan Populer