Negeri ngeri itu bernama Bekasi


Mengapa gemuruh pembangunan tak pernah berhenti barang sejenak? Dan selalu saja berdampingan dengan nyanyian tak mengenakkan dijalanan, riuhnya kendaraan mengantri satu demi satu jalan yang dilewati menuju titik tujuan.
                Belum usai dan akan sampai pada lelah, kota ini sudah seharusnya berhenti sejenak. Bagaimana ia harus terus berubah, padahal sampah kian mewarnai kanan-kiri jalan, turut serta dalam aliran arus air sungai, diantara kolong-kolong jembatan bawah jalan tol, berhentilah! Saya lelah melihat apartemen dan segala modernisasi yang seakan lupa merawat lingkungan.
                Serupa desa yang dipaksa menjadi kota, lebih tepatnya sebuah kampung yang tengah digiring menjadi negeri orang-orang berkantong tebal, bermobil mewah lagi memiliki rumah megah. Kebencian tumbuh setiap melihat tumpukan sampah di pinggiran jalan, lebih lagi bila sudah menjadi satu dengan arus air yang berada disungai. 
                Bagi saya, setidaknya Bekasi pernah menjadi ruang bermain yang menyenangkan, saat bangku sekolah dasar. Ketika perumahan dan ego manusia bukan yan diutamakan. Rasa-rasanya memang kota tak pernah sejenak rehat dan menjadi kanak-kanak. Kota begitu dewasa sampai lupa menertawakan kesibukan di jalanan yang hanya perihal mengejar waktu, lupa pada pagi yang begitu segar udaranya, sore dengan jeda yang cukup bila dirayakan bersama orang-orang tersayang.
                Perkampungan di vermak menjadi perumahan yang banyak memakai ruang terbuka dengan dalih menjawab kebutuhan manusia akan tempat tinggal, beberapa panorama alam yang masih indah untuk di pandang dan dinikmati bersama turut hilang bersamaan dengan datangnya mesin alat berat yang siap meluluh-lantahkan rumah-rumah dengan alasan jalanan lebih dibutuhkan.
                Anak-anak berebut lapangan sebab ruang mereka belarian, main petak umpet, kelereng, tak benteng, lompat karet makin terdesak keinginan orang-oran beruang. 
                Bukan apa-apa sebenarnya, hanya sebuah refleksi keadaan yang saya rasakan saat ini dan belasan tahun silam. Paling tidak saya juga merasakan betapa beruntung hidup dikota saat pembangunan belum begitu merajalela.
                Di sana, banyak pembelajaran yang bisa saya bawa bekal untuk menjalani hari. Kesabaran, ketabahan dan kemurahan senyum yang akan membawa kita pada pertemuan-pertemuan baik, meski polusi, kesopanan juga kesederhanaan sulit di temui di kota.

Komentar

Postingan Populer