Jejak langkahku


46 tahun Mapagama // Manusia, Alam dan Kebudayaan 

Berkelana saja tuan-tuan, disana kita temui keniscayaan
Berjaga api di dingin malam, sunyi ini kebisuan hidup yang hakiki
 Samudera ketidakpastian terjawab sudah, asah naluri, langkahkan kaki!
Rumah bagi kita adalah segala badai dan gelegar petir yang menggila
Menyelami dasar lautan, menghujani tanah-tanah gersang dengan peluh keringat.
Menyeka bibir sungai dengan dayung, lalu menguak gulita yang berteka-teki dalam keheningan gua, sampai-sampai kita tak berhenti pada cadasnya tebing yang tercengkeram dalam genggaman dan udara segar diantara awan yang berarak-arakan, kita menyerupai capung dengan payung.

Berjalan, jauh, sangat jauh, sampai kita musti berjuang untuk kembali meninggi ke langit, menapakkan kaki dibumi, dimana ada do’a disana tumbuh keberanian manusia. Tatkala surya muncul dibalik rumus waktu yang belum bisa kita terjang, ia menyirami kita dengan cahaya, tak pernah begitu terik, tak pernah. Sementara keriuhan kita kerap usai pada sela-sela jemari waktu sore menjelang petang, disanalah istirah, segala fase yang sudah sudah semestinya kita rayakan bersama. Sudikah kiranya menengok masa yang lama?

Bongkahan es ditengah riuh angin yang menderu di Pegunungan Jayawijaya, bersamaan dengan reinkarnasi jiwa kembara kita yang tak pernah usai, menuntaskan dahaga. Atau tentang nyamuk di Belantara Nusakambangan, dengannya naluri seorang manusia ditantang, mampukah kita hidup berdampingan dengan alam, menyatu, ruh dan jiwa bersetubuh, berkoalisi demi menumpas segala angkuh dan bersikukuh memberi asupan untuk ego belaka. Lalu, puisi ini menyaksikan satu mahasiswa dengan  ranselnya menggapai puncak Soemantri. Dua mahasiswa dengan kayaknya bermandikan jeram di Sun Koshi bersamaan dengan bahu yang memaku, musti kita hadapi baik-baik, betapa perjuangan ini tidak pernah tidak berbuah hasil. Tiga mahasiswa dengan tas ransel di dada dengan tas besar di punggung berjibaku di tengah kabut dan cuaca dingin alas kaki Pussa Yan Cliff sembari berteman dengan lantunan dari Rancid, 'Aresthed in Shanghai'. Tangan juga kaki menjadi saksi sekaligus peneguh, hati menjadi naungan bagi niat baik untuk Tuhan melewati alam dan kebudayaan. Tiga tahun terlewatkan, tak ada perehalatan akbar ke luar bumi khatulistiwa. 
Tapi empat srikandi berdiri diatas puncak tertinggi Stok Kangri, berkawan dengan dingin yang tak terperikan menggemalah Indonesia Raya, berkibarlah Sangsaka pada satu pasak ranah tinggi jagat India.

 Jiwa kita terlampau liar dan bebas, menolak berdiam dalam tempurung
Kita adalah serdadu yang berjaga dikelamnya malam, dan siaga dibawah terik mentari
Kemerdekaan bagi kita adalah berteman dengan segala ketidakmungkinan,
berpacu diatas ragam rupa pertanyaan yang tak pernah terjawab perihal kehidupan. Tidak untuk ditakuti, segala musim, sesemua suasana dan  kecamuk zaman kita hadapi, bersama dengan berani, menjadi penjelajah, pengabdi dan peneliti. Tak lain, demi kemuliaan Sang Pencipta Alam Semesta Raya jua menghabisi waktu menuju gerbang kepulangan;mati dan abadi.

Hanif Nur Hassan Al Faruqi  // Gladimula XXXIII Mapagama // MG 2018310

Komentar

Postingan Populer