Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni

Gemuruhnya tak seriuh rinai hujan yang jatuh ke permukaan

Namun setiap yang diterpanya merasakan kehangatan dan ketentraman

Ia adalah angin bulan Juni, bersamaan dengan rona jingga yang bersolek di sisa pendar sang surya dari Timur kala Senja. Direngkuhnya setiap hati yang letih, didekapnya tubuh yang bermandikan lelah, dan digenggamnya jari-jemari yang kehilangan cengkeramannya.

Angin yang tabah, membawa kabar dari Sang Maha Pencipta pada semua makhluk-Nya, wahai jiwa-jiwa yang letih, duhai tanah yang terlampau tabah digempur beragam ujian atas laku insan yang lalai dan pandai merusak. Oh udara segar yang kehilangan marwahnya, sebab kepulan asap dari industri ekstraktif menembus berbagai celah kemungkinan hingga masuk ke dalam paru-paru manusia-manusia kecil di pesisir.

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni Pak Sapardi. Ia menjelma angin perubahan dari kegusaran-kegusaran yang ribuan hari bertumpuk dalam tempurung kepala, bersembunyi dalam lusuhnya jas almamater yang rindu aroma perjuangan, kegelisahan berlebih yang tersaji di meja makan masyarakat kecil atas laku buruk para pemangku kuasa yang lagi dan lagi, lupa bagaimana seharusnya mereka menggunakan kekuasaan yang sedang dipegangnya.

Oh Angin bulan Juni, yang berhembus dari balik jendela gedung di Senayan, yang getarannya mampu menggoyangkan tiap-tiap yang tak jujur untuk kembali kepada kebenaran. Berikan kami bertubi-tubi angin yang tabah dari-Mu Ya Rabbana. Bila bukan karena campur tangan-Mu sungguh angin perubahan ini tak akan pernah sampai mengusik dan mengetuk sanubari para pemangku kuasa di negeri yang kaya raya ini.

Dihapusnya jejak-jejak buruk dan ragam niat licik, busuk dan culas. Bukankah hanya Engkau yang mampu mengirimkan dan meniupkan angin perubahan itu Ya Rabbana?

Bukankah kelicikan, keculasan dan hilangnya rasa malu dalam diri para elite negeri ketika hendak mewujudkan cita-cita mulia dalam kasta pemilihan umum tertinggi di negeri ini hanya Engkaulah satu-satunya yang mampu menutup aib-aibnya dan membuka topeng-topeng muka mereka dan pembalut-pembalut dalam qolbu mereka?

Tapi, tak ada yang lebih tabah dari angin bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kantung mata yang mengembung pada tiap-tiap penglihatan mereka.

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, didekapnya erat-erat beragam kecemasan akan hari esok, dan disiramkannya jutaan raya syukur atas keberlimpahan nikmat dan karunia-Nya.

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, diredamnya beragam emosi jiwa yang berasal dari nafsu belaka, sebab pertarungan ini begitu nyata melawan saudara setanah air sendiri.

Oh, angin bulan Juni yang bertiup dan menerpa diri dalam ragam situasi, temani kami memperjuangkan kebenaran melawan kebatilan dan kedzaliman para tirani.

 

Komentar

Postingan Populer